Beberapa waktu lalu, saya jalan2 ke sebuah toko buku. Iseng dan memang sudah menjadi kebiasaan saya kalo lagi bosen, larinya ke toko buku. Tanpa dinyana, biasanya kegalauan saya terjawab ketika saya menjalankan kebiasaan ini. Kadang, ketika ada ide tapi mentok cara memulai bahkan merealisasikan, tiba2 nemu aja buku yang sepikiran dengan saya. Ato kadang pas galau gundah gulana, dari kebiasaan ini malah nemu buku yang support entah nemu solusi atau untuk mood booster. Sama yang saya alami kali ini. Ceritanya lagi galau sekitar marketing, penjualan dan produk. Eh…kok ya nemu aja jawabannya. Berikut ini saya nulis dari pengalaman pribadi dan bersifat sharing yah. Belum tentu semua orang bisa mengalami apa yang saya alami. Bisa sama, bahkan bisa beda jauh banget. Tapi paling tidak bisa menjadi salah satu cara kalo suatu ketika anda berada di situasi yang sama dengan saya yang selalu GELISAH.

Tahun ini adalah tahun keempat brand fotografi saya berdiri di Magelang, dan sudah 6 tahun semenjak tahun berdiri. Saya mencoba review apa aja yang terjadi, berubah, maju dan mundurnya progress, dan tentu saja saran kritik yang pernah dilayangkan kepada kami sebagai brand. Ada satu fakta yang pahit dimana saya merasa stuck atau buntu dengan inovasi. Pertanyaan besar saya kala itu adalah : APAKAH INOVASI ITU BENER2 DIBUTUHIN DI PASAR YANG HARI INI KITA OLAH? Kalo butuh, apakah inovasi itu sudah dibutuhkan pasar?, atau kita memang harus mengunggu kebutuhan pasar?, atau kita sebagai penyedia jasa yang harus “membuat” kebutuhan itu? Waktu itu cuma muteeeeeerrrrrrr aja, dan ga pernah ada jawabannya. Cari disana sini ga pernah nemu yang pas. Sharing sama orang lain, jawabannya kurang cuzz. Eh..malah nemu jawabannya di saat yang tidak dikira-kira.

Setelah 400 halaman saya santap hanya beberapa hari saja, akhirnya saya nemu jawaban dan saya akan sangat berdosa jika saya tidak sharing ke temen2 smua, haha..lebay. Jadi…kesimpulan saya setelah saya compare apa yang terjadi dengan brand kami dan dengan apa yang ada dibeberapa literature yang say abaca (termasuk buku baru itu) adalah demikian :

Brand memiliki banyak definisi yang bertujuan untuk menawarkan sesuatu. Sesuatu itu adalah PRODUK. Produk itu bisa berbentuk jasa atau barang. Banyak variable untuk mengenalkan brand anda ke masyarakat luas. Inilah yang disebut BRAND IDENTITY. Tapi hal ini ga akan saya bahas disini, nanti malah nggeladrah kemana-mana. Balik lagi ke produk, bahwa sebuah brand pasti mempunyai produk, dan produk ini lah yang ditawarkan ke masyarakat luas. Produk ini bisa berupa jasa ataupun barang. Produk ini bisa berupa jawaban dari apa yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Tapi, jika sebuah brand sudah kuat, produk brand ini tidak hanya akan menjawab kebutuhan klien, tapi lebih luas lagi yaitu dengan membuat produk yang nantinya akan dibutuhkan masyarakat luas. Contohnya ada di salah satu brand wahid berikut ini.

Waktu itu pak Tirto Utomo ditertawakan oleh koleganya karena menjual produk yang dimana-mana bisa didapat = AIR PUTIH. Tapi keyakinan beliau waktu itu bukan pada mudahnya membuat air putih yang siap minum, tapi praktisnya orang mendapatkan air yang siap minum tanpa harus merebusnya dan tentu saja menunggu dingin dulu baru bisa diminum. Lama kelamaan produk beliau diterima masyarakat karena kebutuhan dan kemudahan. Begitulah cerita singkat dari brand AQUA.

Contoh diatas adalah produk yang sebelumnya tidak dibutuhkan oleh masyarakat secara fungsi, tetapi dibutuhkan secara keefektifan. Cerita inspiratif diatas bisa mendorong kita untuk semakin kreatif dalam berkarya dan MENAWARKAN PILIHAN.

Galau adalah ketika sudah merasa berada di titik aman. Semua nya sudah berjalan sesuai idealism dan rencana. Eh…kondisi ini malah membuat inovasi dan kadar kreatifitas menurun. Seriusan loh. Jadi males mau ngapa2in. Pada akhirnya kita lengah dengan competitor yang tadinya ketinggalan, tiba2 aja uda ada disamping kita, ngeliatin kita sambil senyum-senyum, melet-melet, bahagia karena kita lengah dan yang tadinya ada jauh dibelakang kita tiba2 uda disamping kita dan siap2 buat nyalip. Kondisi inilah yang merangsang kita buat DO SOMETHING! Karena uda terlanjur dijejerin competitor yang tadinya ketinggalan jauh, akhirnya jadi asal2an dan melakukan hal2 ceroboh yang harusnya ga dilakukan. Sepertinya ngelakuin apa aja kok salah. Ngelakuin ini gagal, ngejalanin itu gagal. Sukurin!

Sampai pada satu titik nemu jalannya. TERNYATA…produk sebuah brand mempunyai “nyawa” yang musti diperhatikan. Nyawa yang dimaksud adalah ketertarikan masyarakat luas terhadap produk kita. Seberapa lama produk kita menjadi primadona diantara produk competitor yang lain. Kondisi akan semakin parah ketika menawarkan yang itu-itu saja, tetapi competitor mempunyai produk yang lebih baik. Atau competitor ternyata mempunyai produk yang lebih baik atau lebih fresh, dan kacaunya…lebih murah dari produk kita. Nah loh! Ngalamun aja sih…jadi bingung kan!

Ada beberapa fase yang dialami oleh produk sebuah brand. Fase itu adalah fase 1) Perumusan Produk, 2) Pengenalan Produk, 3) Running Product dan yang terakhir dan sering dilupakan adalah fase 4) Dead Product Phase. Secara sederhana akan saya share dengan gaya bahasa saya sendiri ya :

1) Perumusan Produk adalah fase dimana produk sebuah brand dirumuskan sebelum dilempar ke pasar. Fase ini adalah fase dimana sebuah brand memutuskan untuk membuat produk yang menjawab kebutuhan pasar atau menawarkan pilihan untuk produk yang sudah ada di pasar (competitor sudah menyediakan produk yg otentik)
2) Pengenalan Produk adalah fase dimana produk yang sudah dirumuskan mulai dikenalkan ke pasar. Seberapa impact dari produk itu terhadap brand dan bagaimana produk itu bisa diterima oleh pasar. Di fase ini, sebuah brand sah-sah saja untuk menarik lagi produk yang sudah dilempar ke pasar tapi ternyata impact nya tidak sesuai dengan target atau ekspektasi
3) Running Product adalah fase dimana semua yang direncanakan berjalan dengan baik. Produk diterima oleh pasar, dan mempunyai impact yang bagus terhadap brand. Fase ini bisa bertahan lama atau pun singkat tergantung bagaimana quality control dan konsistensi dari brand tersebut. Durasi nya juga tergantung bagaimana competitor menjawab tantangan yang diberikan oleh produk anda.
4) Dead Product Phase seringkali terlupakan. Kenapa?, mungkin karena terlena produknya laris manis, sehingga lupa dengan inovasi dan competitor. Fase ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor : 1) pasar mengalami kebosanan dengan produk anda, 2) ada competitor lain punya produk yang sama atau bahkan lebih fresh, 3) parahnya…competitor anda ini menjual produknya lebih murah. Semisal fase ini tidak diperhitungkan dengan cadangan inovasi-inovasi, sudah pasti produk dan brand kita akan pontang-panting oleh competitor yang lebih siap menghadapi fase-fase sebuah produk ini.

Hufft…ternyata RUWET! Hahaha…Tapi saya yakin, semisal kita menjalani dengan ikhlas dan penuh passion, semuanya akan mengalir begitu saja, tanpa paksaan dan tanpa beban. Ada satu quote yang terngiang dipikiran saya sampe detik ini, dan saya masih berusaha sebaik mungkin untuk mewujudkan :

“…BRAND adalah salah satu cara menghindari perang harga…”

Hahahahaha….sampe ketemu lagi ^^

Irawan Gepy Kristianto @igkbygepy @gepyisme @thephotoworks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hi Genks! Mau SikMimin bantu info FLASH SALE 2020?