fotografer unik jogja

Menjadi fotografer di jaman sekarang ini susah-susah mudah. Di satu sisi, perkembangan media sosial memudahkan kita untuk menunjukkan karya kita, tidak hanya di masyarakat lingkungan kita, tapi bahkan dunia. Tapi disisi lain, kemudahan ini juga membuat sebuah perubahan besar-besaran dalam sebuah industri jasa dan kreatif. Seseorang yang mempunyai skill tertentu akan terlibas habis oleh seseorang yang bisa memanfaatkan peluang meski tanpa skill sama sekali. Begitu juga sebaliknya. Kenapa bisa begitu? Perubahan media informasi mau tak mau, suka tak suka sudah menjadi kebutuhan kita di era modern ini. Karena sudah menjadi kebutuhan, seperti kebutuhan akan makan dan minum, kebutuhan akan teknologi informasi ini membuat kita terasa selalu lapar dan haus untuk memenuhi kebutuhan. Ini lah yang membuat teknologi informasi dewasa ini mempunyai peran sangat penting dalam kehidupan, dan mempunyai pengaruh besar terhadap industri khususnya penyediaan jasa dan kreatif.

Mudah dan bisa di akses oleh siapa saja. Itulah yang menjadi daya tarik dari teknologi informasi sekarang ini. Dulu, sekitar 10 tahun yang lalu, untuk mengawali promosi usaha, seseorang atau sebuah perusahaan harus membuat poster, baliho, pasang iklan di radio dan media promosi lainnya untuk menawarkan jasanya kepada orang lain. Jelas itu semua membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tapi sekarang semua berubah drastis. Adanya kemajuan teknologi infomasi dan sosial media, kebutuhan promosi sebuah usaha sangat-sangat terbantu, bahkan terkesan tidak terkendali. Kenapa?, kembali ke awal alinea, karena bentuk promosi ini sangatlah mudah, murah dan mencakup area promosi yang sangat luas bahkan ke seluruh dunia. Jadi…kenapa tidak? Maka dari itu mulailah semua orang berbondong-bondong untuk membuat sesuatu lalu menjualnya. Tanpa batasan dan tanpa aturan. Hanya seleksi alam-lah yang bisa membuat mereka bertahan atau tumbang.

Begitu pula dengan industri fotografi. Katakanlah seseorang bisa motret, bahkan “hanya” dengan sebuah kamera dan lensa standart, orang tersebut boleh berjualan didunia maya dengan membuka jasa fotografi, bersanding dengan fotografer yang lebih berpengalaman secara head to head. Sah?, jelas sah! Karena tidak ada aturan apapun yang tidak membolehkan seorang amatir bersaing head to head dengan yang pro. Apakah bisa dibedakan?, pertanyaan yang sangat mudah di jawab : jelas bisa! Orang yang sudah terbiasa membuat martabak, akan lebih enak produknya dibandingkan dengan orang yang baru 2 hari megang wajan dan bersingungan dengan minyak panas. Loh…kan sama2 bikin martabak?, asal outputnya sama-sama martabak, masih sah donk klo head to head. Yes!!!…benar sekali. Trus apa yang bedain antara martabak yang berpengalaman dengan martabak yang masih newbie? Jawabannya adalah : RASANYA!

Seseorang yang sudah lama berkecimpung pada sebuah profesi, akan mempunyai jam terbang yang tinggi pula. Jam terbang tinggi ber-korelasi lurus dengan semua permasalahan yang pernah di tangani orang tersebut. Dia tau cara mengatasi semua masalah, dan merumuskan bagaimana biar ga terjadi lagi. Berbeda dengan si newbie yang ber-korelasi lurus dengan uji coba dan asal jadi. Jangankan ngomongin rasa, dari bentuk martabak aja mungkin uda beda kok. Beneran de.

fotografer unik yogyakarta

Jadi…bagaimana cara mengatasi persaingan yang sangat ketat ini? Bagaimana caranya masuk ke sebuah kompetisi dimana peserta nya sudah berjibun. Jawabannya gampang : ya ga usah masuk, ngapain?, susah jadi juara….hwkwkwkwk . Tapi saya yakin, temen2 yang baca tulisan saya ini bukan tipe orang yang mudah menyerah. So…bagaimana caranya biar bisa keliatan diantara berjuta? Haruskah saya menjadi pro dulu?, haruskah saya banting harga dulu?, haruskah saya nyontek karya orang lain? Buat ngejawab itu, saya mengutip apa yang pernah dikatakan oleh Deddy Corbuzier :

“…lebih baik sedikit lebih beda, dibanding sedikit lebih baik…”

Menjadi lebih baik adalah konsekuensi dari sesuatu yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, yang artinya setiap orang bisa melakukannya dengan cara yang sama. Tapi, menjadi beda adalah sesuatu yang tidak dipikirkan oleh orang lain. Perilaku ini tidak dapat dipicu oleh siapapun dan apapun. Sesuatu yang beda keluar dari pribadi yang gelisah dan selalu ingin dipandang beda. Menjadi beda adalah salah satu cara agar orang melirik ke arah kita, baik itu beda dengan artian positif atau beda dengan artian negatif. Berdirilah kalian diantara orang yang berbaju seragam sedangkan kalian memakai baju yang berbeda dengan yang lain. Orang lain akan dengan mudah melihat ke arah kalian. See?

Menjadi beda mempunyai konsekuensi yang harus dijalani oleh seseorang atau sebuah brand/merk. Menjadi beda adalah jalan pilihan yang menuntut segalanya harus baru, Kenapa?, ketika kalian mencuri perhatian dari sesuatu yang sudah tertata rapi, mau tidak mau dan suka tidak suka, kalian akan selalu dilihat dari ujung kaki sampe ujung rambut. Baik sesuatu yang baik bahkan sesuatu yang buruk. Kalian harus memikirkan ke-orisini-an produk kalian ditengah sesuatu yang sudah seragam selama beberapa waktu karena kalian (atau produk kalian) dianggap sebagai sebuah oase ditengah kejenuhan bisnis. Ketika perbedaan yang kalian tawarkan itu baik dan bisa diterima banyak orang, semua kompetitor dengan sadis dan tanpa cas cis cus akan meng-copy paste apa yang sudah kalian rumuskan agar bisa menjadi beda. Jika ini sudah terjadi, maka kalian harus siap2 berganti kulit dan menjadi beda ke level berikutnya.

Salah satu kekurangan orang Indonesia berkaitan dengan seni dan penciptaannya adalah minimnya apresiasi. Padahal, dimana-mana seorang seniman membutuhkan sebuah apresiasi alih-alih membutuhkan pundi-pundi uang. Egositas seseorang bisa sangat teruji karena sebuah apresiasi yang pelit sekali ditunjukkan oleh orang-orang yang melakukan copy paste terhadap karya kita. Apresiasi adalah vitamin bagi seniman. Apresiasi adalah ganjaran paling setimpal akan sebuah pemikiran, jasa atau hasil karya apalagi seni. Tanpa apresiasi, setiap orang akan dengan seenaknya mengambil ide orang lain tanpa memperhatikan kesopanan bahkan hak cipta.

Menjadi beda mempunyai konsekuensi untuk tidak mendapatkan pasar yang ditargetkan. Market share yang laku berasal dari sesuatu yang baik/bagus, diulang-ulang dan ditiru oleh banyak orang. Kebiasaan mata melihat sesuatu yang berulang-ulang, diterjemahkan secara instan oleh otak dan diberi label : BAGUS. Padahal, tidak semua informasi yang diterima otak, sama dengan apa yang dirasakan oleh hati. Ketika kalian beda diantara masyarakat yang memberi label “aneh:” pada kita, disitulah letak perbedaan yang kalian terapkan mulai diakui oleh masyarakat anda.

1 thought on “BERANI BEDA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hi Genks! Mau SikMimin bantu info FLASH SALE 2020?