Mungkin ini adalah pertanyaan ketika anda mendengar ada sebuah vendor fotografi yang bisa berjualan paket wedding atau prewedding hingga berpuluh-puluh juta. Atau juga ada pertanyaan lain seperti “…Berikan saya satu alasan kuat kenapa saya harus membayar lebih untuk sebuah paket fotografi…” Banyak faktor yang mendukung kenapa fotografi sudah menjadi salah satu bagian dari art/seni yang perlu di hargai lebih. Mulai dari faktor sumber daya manusia, kemasan produk hingga cara kerja dari masing2 vendor itu sendiri. Sebenarnya fotografi menjadi “korban” dari kemajuan teknologi nya sendiri dimana kemudahan membuat semua orang bisa melakukannya. Eiiiitssss….jangan buru2 menyimpulkan bahwa semua orang bisa melakukannya. OKE saya setuju jika dewasa ini setiap orang bisa motret, tapi BELUM TENTU setiap orang bisa memberikan yang terbaik bagi anda dalam hal motret-memotret. Ga percaya?…silakan terus membaca.

ALASAN #1… Ketika saya memotret sebuah acara gereja, disebelah saya duduk satu orang anak muda yang jenis kamera nya sama persis dengan saya. Berulang kali kami ketemu didepan panggung untuk mengabadikan moment yang terjadi. Tidak jarang juga kami mempunyai angle yang sama sehingga sering bertubrukan. Ketika saya sedang istirahat dibelakang, tiba2 dia menghampiri saya lalu bertanya “…om…lihat hasil foto om donk…punya saya kok goyang semua ya?…” Setelah saya liat, ternyata memang benar bahwa hasil jepretan dia ga ada yang bener…shake semua. Setelah share beberapa menit, dia pun meninggalkan saya mengantongi beberapa saran dari share saya tentang teknik memotret. Cerita ini mengingatkan saya bahwa SETIAP ORANG BERHAK PUNYA KAMERA, SETIAP ORANG BISA MENYEBUT SEBAGAI FOTOGRAFER, TAPI BELUM PASTI SETIAP ORANG BISA MEMOTRET. Lihat contoh diatas, dimana orang yang memiliki spek kamera yang lumayan, masih menggunakan mode shoot AUTO.
So…dari cerita diatas sudah tersebut bahwa ada “jenis” fotografer jadi2an yang hanya bermodal kamera bagus tanpa dibarengi teknik (sekalipun teknik dasar memotret). Jadilah ini menjadi ALASAN PERTAMA kenapa anda PERLU membayar lebih untuk sebuah paket foto, dimana seorang yang menyebut dirinya (real) fotografer akan dibarengi dengan beberapa faktor yang dapat mendukung kinerjanya entah itu dari segi pengetahuan teknis memotret, bahkan hingga jenis kamera yang cukup mumpuni untuk digunakan.

ALASAN #2 …Oke lanjut…Dewasa ini siapa sih yang gak kenal Google? Disitu ada beribu-ribu mungkin bahkan berjuta-juta tips dan ilmu memotret tanpa dipungut biaya sepersen pun (kecuali buat bayar internetnya yah^^) dari mereka yang share ilmu nya. Tidak heran jika ada banyak orang yang sudah bisa memotret dan dibarengi dengan teknis yang cakep pula, hanya dengan membaca artikel2 melalui Google. Tidak cukup berhenti disitu. Karena pembahasan kita tentang “harga sebuah fotografi” maka saya akan menyambungkan dengan jenis fotografi yang komersil pula. Dalam dunia komersil, lebih tepatnya tentang penjualan jasa selalu dibarengi dengan pelayanan yang baik pula. Namanya juga jasa, kepuasan konsumen adalah nomer satu. Oke back to topic dimana fotografi komersil itu mengedepankan jasa untuk menopang teknis memotret dsb. Kenapa?, melihat fenomena yang terjadi hari ini dimana banyak orang yang mau dan (katanya) mampu mengerjakan project fotografi dengan biaya yang minim, bahkan gratis dengan alasan untuk menambah portfolio. Tidak ada salahnya sih, tapi lebih baik baca dulu share rekan saya dibawah ini :

Rekan saya adalah salah satu bidan terbaik di bidangnya. Beliau tinggal di Klaten dengan pasien dari seluruh Indonesia. Pernah suatu kali saya beserta istri maen kesana dia bertanya apakah saya mau untuk menjadi fotografer dia untuk mendokumentasikan profesi dia hingga ke proses kelahiran. Saya pun balik nanya, ” memang si pasiennya mau saya foto, kan kebanyakan pasien (melahirkan) itu risih jika ada orang lain disampingnya ketika proses melahirkan”…Beliau malah bercerita demikian :
Jadi…pernah suatu kali ada seorang pasien yang dia tawari untuk didokumentasikan kelahirannya. Meski belum ada kandidat fotografernya, si bidan rekan saya ini nekat menawarkan jasa itu pada si pasien. Eh ternyata si pasien mau. Untuk itu, bergegaslah si Bidan ini mencari calon-calon fotografer. Setelah beberapa kali posting dimana-mana, akhirnya dapatlah seorang fotografer yang masih mahasiswa disalah satu universitas negeri di jogja. Singkat kata, tibalah dihari pemotretan (hari kelahiran). Si mahasiswa datang lalu bergegas menyiapkan segala sesuatunya. Setelah semuanya berjalan lancar, si mahasiswa pun pulang dengan membawa semua file dokumentasi tentang kelahiran itu. Tapi apa dinyana?, hingga 3 bulan terlewati si mahasiswa tidak kunjung memberi file fotonya. Boro2 file foto, orang kasi kabar aja enggak, dan malah tidak bisa dihubungi karena HP nya tidak aktif. Dan alhasil, hingga hari ini (kejadian ini terjadi tengah tahun lalu) foto itu pun tidak pernah sampe ke tangan si bidan.

SEE?…begitulah faktor ke-profesionalisme-an itu begitu penting. Bisa memotret dan bisa membuat foto yang bagus itu tidak berarti jika tidak dibarengi dengan Profesionalism Behaviour yang baik pula. Alhasil siapa pihak yang dikecewakan?, tentu saja anda sebagai klien. Maka dari itu, untuk memilih fotografer yang baik, tidak hanya dilihat dari segi hasil fotografi nya saja, tapi juga dari faktor yang lain juga perlu di pertimbangkan. Itulah ALASAN KEDUA kenapa anda perlu membayar lebih untuk sebuah fotografi.

ALASAN #3…Mari berbicara tentang keindahan foto. Bagaimanakah definisi foto yang bagus itu? Dari awal berlajar motret hingga hari ini, saya masih belum bisa mendefinisikan bagaimana sih kriteria foto yang bagus itu?Anda bisa?…tidak perlu dijawab. Oke…untuk memudahkan pembahasan didalam tulisan ini, saya akan mencoba menyebutkan kriteria foto yang bagus menurut versi saya. Buat saya, foto yang bagus itu adalah foto yang mampu menimbulkan emosi bagi setiap orang yang menikmatinya. Entah itu masih sejalan dengan prinsip2 atau kaidah2 fotografi atau tidak, bagi saya foto yang bagus itu adalah foto yang bisa membangkitkan emosi. Bagi saya ini sangat mahal dan tidak setiap orang (yang memotret) bisa membuat foto seperti ini, hanya fotografer yang bisa…ingat sekali lagi….HANYA FOTOGRAFER YANG BISA! hihiihihi….^^

Sebagai contoh. SIlakan melihat perkembangan foto wedding dewasa ini. Banyak sekali foto yang melenceng jauh dari kaidah fotografi malah bisa dihargai mahal, dan sebaliknya foto2 yang masih memegang kaidah2 fotografi malah dihargai biasa2 saja. INGAT…KITA MEMBAHAS SOAL FOTO WEDDING YAH, bukan hal yang lain…beda lagi urusannya. Oke back to topic. Jika anda adalah seorang fotografer wedding/prewedd, pernahkah anda mendengar komentar orang yang (maaf) merendahkan anda?, seperti misalnya “…kaya gini mah gw motret sendiri pake kamera poket gw juga bisa…” ^^
Ya…karena setiap orang bisa membuat, jadilah fotografer itu tidak mempunyai nilai lebih dalamberjualan. Alhasil, margin price nya ya cuma segitu-segitu saja. Tapi beda perkara dengan mereka-mereka (fotografer) yang mampu berbuat beda dengan membuat foto yang belum tentu orang lain kepikiran atau bahkan membuatnya tanpa dibarengi teknik yang mumpuni.

SEE?…jadilah ini menjadi ALASAN #3 dimana kita perlu membayar lebih untuk sebuah karya fotografi karena sesuatu yang unik dan berbeda itu memang layak di hargai lebih dari sesuatu yang biasa ^^


Dokumentasi itu ga mahal, yang perlu kita paham adalah, kita kudu ngerti, sebenernya kita beli apa aja…dah itu aja. Makin banyak ya makin mahal, makin bagus ya makin mahal. Dah…gitu aja

ALASAN #4…banyak dari calon klien saya yang menanyakan bentuk produk saya. Mereka ingin memastikan wadah yang dipakai untuk menyematkan sejarah kehidupan mereka. Dewasa ini sangat banyak pilihan vendor album yang menawarkan berbagai jenis dan bentuk album. Mulai dari yang biasa dan relatif terjangkau hingga yang istimewa denga harga yang lumayan membuat nyengir. Dalam berproses, saya selalu menawarkan pada klien bentuk produk mana yang dipilih. Dari pemilihan produk ini mau tidak mau harga kita pun terkena imbasnya karena kita membicarakan paket foto dimana didalamnya hampir selalu ada item SERVICE dan PRODUCT. Didalam item service terdapat fee untuk fotografer, fee asisten, fee MUA dan fee charge untuk penyusutan alat. Didalam item product terdapat beberapa product yang dipilih klien untuk hasil akhirnya. NAH, disinilah biasanya harga membengkak. Harga produk yang menjadi output pekerjaan kita ikut melambungkan harga jual kita. Parahnya…tidak semua orang mau membaca item ini. Yang dilihat adalah hasil akhir (baca=harga keseluruhan) sehingga mudah di cap mahal/murah. Pernah sesekali saya mencoba pada calon klien saya dimana saya tawarkan dua jenis vendor album. Satu vendor menawarkan harga (misal) 1 juta untuk 1 album 20 halaman, satu vendor menawarkan harga 2,5 juta untuk album dengan 100 halaman. Ternyata…banyak calon klien saya yang memilih vendor pertama sebagai output. Disini terlihat jelas bahwa ADA DETAIL YANG DILEWATKAN oleh si calon klien saya ini. Terkadang ada klien malah lebih memilih membuat album dengan harga 1 juta berjumlah 4 album, dari pada album seharga 2,5 juta dengan hanya mendapatkan 1 album. Disini terlihat QUANTITAS mengalahkan QUALITAS. Kembali ke topic pembahasan. Yang ingin saya sampaikan disini adalah, SELALU ADA ALASAN UNTUK SEBUAH HARGA, sekali lagi saya sampaikan. Anda sebagai klien perlu melihat detail yang fotografer tawarkan. Tidak hanya melihat hasil akhir (baca : harga) tapi juga melihat apa saja yang membangun harga itu menjadi terbentuk.

Sudah pernah menjadi topik pembahasan dengan beberapa rekan sesama fotografer dimana calon klien selalu memperhatikan harga untuk pertama kali. ITU TIDAK MASALAH….sama sekali BENAR…tapi…mari mencoba mindset tentang menghargai sebuah pekerjaan dimana selalu ada SEBAB DARI SEBUAH AKIBAT, SELALU ADA ALASAN UNTUK SEBUAH HARGA. Cermati apa yang ditawarkan fotografer kepada anda (klien) termasuk detail harga dan apa saja yang termasuk dalam jasa si fotografer. Niscaya akan ada saling pengertian antara fotografer dan klien sehingga sama-sama mendapatkan yang terbaik bagi kedua belah pihak.

ALASAN #5…Sudah anda ketahui bahwa dewasa ini sudah banyak sekali orang atau perusahaan yang menawarkan jasa fotografi. Harganya pun beragam. Mulai dari yang termurah hingga yang termahal. Ingat…murah dan mahal tergantung dari anda sendiri. Bagi saya harga 5 juta tidak termasuk murah, harga 25 juta juga tidak termasuk mahal. Kenapa?…karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Sebagian orang cukup dengan 1 album, tapi dilain pihak sebagian orang menginginkan album lebih dari 2 buah. SEE?…semuanya kembali kepada anda, seberapa anda menghargai moment2 indah anda dan dipercayakan kepada fotografer. Dalam usaha fotografi semuanya berkorelasi satu sama lain dari mulai anda “membeli” sebuah brand untuk melayani anda, membayar fotografer yang memotret anda (tergantung “jenis” fotografer yang melayani anda), hingga produk2 yang dihasilkan untuk anda. Semua faktor itu ber-korelasi hingga timbul sebuah harga yang harus anda bayarkan untuk mendapatkan jasa mereka. Ingat bahwa Lain perusahaan lain Client Handling, semakin tinggi anda membayar, semakin eksklusif pula anda diberlakukan oleh mereka. Mau contoh?, saya share….

Ada sebuah jasa Fotografi terkenal di Jakarta yang kredibilitasnya sudah diakui. Satu hal “aneh” tentang komentar orang untuk brand fotografi ini adalah selalu dibilang MAHAL. Tetapi…ketika kata MAHAL itu meluncur dari beberapa rekan saya, kenapa masih saja usaha itu lancar2 saja dan bahkan hampir setiap seminggu sekali mereka mem-posting pekerjaan baru mereka di FB. Artinya, meskipun di cap sebagai sesuatu yang mahal, masih saja ada orang yang mau dan mampu membeli nya. Singkat kata, saya bertanya pada salah satu rekan yang memilih brand fotografi ini untuk pernikahan mereka (agak sakit hati juga, kenapa tidak didelegasikan ke saya tp malah ke mereka…hwkwkwkwwk) tp gpp lah, positive nya adalah saya bisa mendapatkan cerita ini :

Rekan saya ini membayar hingga 75juta untuk paket prewedding dan wedding. Ketika saya bertanya (dan ingin membandingkan dengan apa yg saya punya) apa saja yang didapat dari angka setinggi itu, ternyata jawabannya tidak jauh dari apa yg saya tawarkan kepada klien2 saya selama ini. TAPIIIIIIIIIIIIIIIIII….ada satu yang tidak bisa saya samai. Yaitu, mereka bekerja secara tim. LARGE TEAM malah. Rekan saya bercerita bahkan sebulan sebelum foto prewedd, salah satu orang kreatif mereka menghubungi rekan saya ini lalu aktif ngajak ngobrol. Ga jarang juga ngajak keluar untuk sekedar nongkrong dan ngobrol. Begitu juga dengan calon istri rekan saya (pacarnya, calon mempelai wanita) diberlakukan dengan hal yang sama. Tahu maksudnya?…YAH…mereka berusaha menggali apa yang ada di dalam masing2 kedua pasangan itu sebagai modal pembuatan konsep prewedding. WOW!!!!, selain itu, dengan kedekatan yang luwes, proses pemotretan pun menjadi mudah karena sudah akrab. Terpikirkah untuk demikian?
Tidak berhenti sampai disitu. Ketika membicarakan tentang konsep dan properti yang dibutuhkan, rekan saya dan calon istri nya diajak ke toko baju (sebut saja demikian) dan mereka memilih baju untuk dipakai dalam prewedding. Sehingga, apa yang sudah ada didalam konsep prewedd benar2 bisa tercapai karena didukung oleh properti2 yang mendukung pula. Terpikirkah sampai demikian?
Tidak juga berhenti sampai disitu. Ketika hari pernikahan, ketika hendak memasuki gereja dan berjalan dari pintu gerbang menuju ke altar, salah satu kru menghampiri kedua mempelai dan mengajak briefing memberitahukan bahwa tim kreatif mereka sudah menyiapkan tanda2 di sepanjang jalan dari pintu gerbang ke altar. Tugas kedua mempelai adalah memperpelan jalannya dan memberi senyum paling manis dengan tatapan kearah altar. DAAAAAN…tentu saja di dekat tanda2 itu sudah standby beberapa fotografer yang siap mengabadikan akting itu…hehehe…TERPIKIRKAH SAMPAI DEMIKIAN?

Inilah yang saya sebut sistem dimana segala sesuatu yang diperlukan untuk membuat foto bagus sudah dipersiapkan dengan matang oleh orang2 yang berkompeten pula. Dari sini saja sudah hampir bisa dipastikan bahwa foto2 yang dihasilkan bagus2 smua kecuali ada hal2 yang mengacaukan (misal : si pengantin yang ga akting atau si “fotografer” yang ternyata ga bisa motret…hahahahahaha) Meminimalkan segala sesuatunya seperti yang dilakukan brand fotografi diatas membutuhkan biaya yang besar yang tentu saja di bebankan pada klien itu sendiri. Maka dari itu saya sering berkata pada temen2 bahwa dulu orang membayar untuk jasa fotografer dan product saja. Sekarang, orang mulai mau membayar untuk TINGKAT PELAYANAN sekalipun itu mahal. Inilah yang saya sebut MEMBAYAR SISTEM, dimana kita tidak hanya membeli jasa fotografi tapi juga membeli sistem dr apa yang mereka ciptakan untuk memmudahkan pekerjaan mereka, memaksimalkan hasil dan meminimalkan kesalahan.

Jadilah ini ALASAN #5 kenapa anda perlu membayar “lebih” untuk sebuah paket fotografi. Jika anda memang membutuhkan hasil yang maksimal, cobalah untuk meminimalkan kesalahan. Selama ini yang berlaku adalah memaksimalkan hasil dengan biaya yang minimal…hihihihi….Ya gpp juga, toh itu juga prinsip ekonomi. TAPI, ada yang perlu saya sampaikan bahwa kepuasan anda adalah tujuan dari fotografer yang melayani anda. Sudah pasti itu. Tapi anda sebagai klien juga perlu mengerti bahwa fotografer juga bekerja sesuai dengan apa yang diporsikan. Pernah seorang kawan berkata kepada saya bahwa definisi PROFESIONAL itu adalah kita bekerja sesuai dengan apa yang dibayarkan pada kita….hahaahhah…tentu saja ini bercanda, tapi kalo di perhatikan ada benarnya juga. Apa ya anda (fotografer) mau bikin album kalo tidak ada kesepakatan harga tentang album dengan klien?…hwkwkwk….apa ya anda rela dibayar 1 hari kalo anda bekerja 2 hari?…hehehe…simple kan?…

Demikian lah apa yang sudah berlangsung di dunia fotografi dewasa ini. Semakin ber-variasi, semakin KREATIF. Jika anda seorang klien, ransang lah fotografer untuk kreatif dengan memberikan sesuai yang dibutuhkan fotografer untuk ber-karya. Tentu dengan tolok ukur yang wajar (baca kembali kelima alasan diatas). Jika anda fotografer, mulai lah untuk berpikir bagaimana menarik konsumen tidak hanya melalui harga. Memang harga masih menjadi satu2nya daya tarik, tapi cobalah untuk me-mindset diri anda untuk membuat anda lebih kreatif dan berkembang. Anda mungkin mengeluh karena pasar tidak memenuhi, tapi jangan berhenti disitu. Mari bareng2 memperbaiki pasar dengan persaingan yang sehat antar fotografer. Dengan ke-kreatifan kita masing2, dengan merangsang untuk lebih menghargai karya kita sendiri. Semoga menjadi lebih baik ketika fotografer bekerja keras untuk sesuatu yang terbaik dan klien lebih menghargai kita dengan harga yang sepadant. WIN WIN SOLUTION….^^

– Irawan Gepy Kristianto –

3 thoughts on “Kenapa Harga Foto Wedding itu Mahal ?

  1. Hallo kaa. Saya baru akan berbisnis dokumentasi wedding dan msh awam bgt gimana cara mulainya (modal nekat sebenernya), untuk bisnis ini ada ga yaa seminarnya gitu? Soalnya saya kurang paham point” penting dunia fotografi wedding, seperti berapa harga yg harus dipatok yg sepantasnya untuk tingkat pemula seperti saya, kan kakaknya udh jelasin yaa ada vendor yg menawarkan 1album seharga 1juta 20halaman & 1album seharga 2,5jt 100halaman (ini berarti dari editingnya dan moment pd penawaran 1juta ini lebih klimaks/emosional kan yaa?) lalu marketingnya seperti apa dll.

    Ohiya kalo misalkan tim saya mengajak bergabung dengan tim dokumentasi profesional dgn alasan untuk pembelajaran apakah memungkinkan tidak ya?

  2. Ada banyak workshop yang membahas tentang how to start the bussiness kok, semakin banyak sumber, makin bagus. Untuk masalah hitungan harga dll, saya tidak bisa jelasin disini karena itu tergantung masing-masing mau matok berapa dan mau bermain di level apa. Yang saya sampaikan disetiap artikel saya beberapa dari pengalaman saya sendiri dan dari beberapa temen yang cerita ke saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hi Genks! Mau SikMimin bantu info FLASH SALE 2020?