Hari ini saya buka dengan membuka obrolan dengan salah satu teman saya, setelah saya melihat postingan dia di fesbuk. Postingan itu mengabarkan bahwa dia akan menutup/menghentikan sebuah kegiatan atau bisa dibilang sebagai salah satu pekerjaan dia karena sudah menghasilkan. Cukup bikin penasaran, kenapa disaat beberapa anak muda menggebu-gebu membuat brand (apapun itu), lah ini temen saya kok nutup “usaha” nya, uda gitu, di announce lagi di fesbuk. Aneh…

 

Dasar tukang kepo, apalagi yang berbau bisnis dan brand, saya pun nanya ke dia apa alasannya sampe harus nutup/menghentikan apa yang sudah pernah dengan semangat dia kerjakan. Jawabannya mengejutkan : “…saya harus fokus dengan apa yang sudah menjadi tujuan awalku Wan (dia manggil saya Irawan, satu2nya temen yang masih bertahan dengan panggilan itu). Dan brand yang aku tutup itu aku anggap uda ngabisin waktuku lebih dari 50%. Aku kok berasa jadi ga fokus sama tujuan awal…”

 

Ada 2 point yang saya pikir sambil nyetir tadi : 1) dia sukses mencanangkan sebuah tujuan utama dalam hidupnya yang saya sangat tau, apa yg dia perjuangkan itu sangat idealis banget, susah diterapkan di Indonesia, dan dia mau berjuang untuk itu. SALUT! yang ke 2) dengan alasan idealis itu, dia dengan berani menutup salah satu sumber pendapatannya tiap bulan. Really amazing! Butuh kedewasaan tingkat dewa mabuk buat memutuskan pilihan itu. Tapi ya itu, temen yang uda “aneh” dari semenjak kuliah ini emang…..joss gandos kothos-kothos.

 

Saya tidak peduli dan saya ga mau tau berapa pendapatan dia setiap bulan sehingga rela nutup salah satu sumber pendapatannya. Buat saya, langkah menutup brand ini, disamping alasan idealis, pasti ada alasan bisnis yang menyertainya. Kemon brur!, masa ya cuma itu doank alesannya? Hahahaha….dan saya penasaran dengan alasan bisnis ini. Terus terang, saya angkat topik ini jadi obrolan hangat dengan istri, dan pendapat istri pun sebelas dua belas dengan pendapat saya. Jadi makin penasaran dan kudu dicari jawabannya.

 

Saya teringat beberapa hari yang lalu ketika ada seorang fotografer bernama Ricky Salim berkunjung di Jogja, bikin workshop pendek dan kebetulan saya dikasi kesempatan dateng dan dengerin apa yang dia omongin didepan forum. Waktu sesi pertanyaan, ada sebuah pertanyaan mengenai keputusan membubarkan brand ini. Ternyata memang ada strategi membubarkan sebuah brand, demi sesuatu yang lebih baik didepan. Menjadi sesuatu yang tidak tabu, ketika sebuah brand dinyatakan bubar, tapi si owner tetep aja bisa menjalani hidup seperti biasanya. Ternyata, dibalik pembubaran itu ada alasan bisnisnya.

 

Seorang owner adalah orang yang tau soal keuangan dan penjualan brand nya sendiri. Setiap bulan si owner bisa ngeliat semuanya dari laporan-laporan karyawannya. Seorang owner bisa memutuskan apa yang harus dilakukan oleh sebuah brand : 1) supaya brand itu selamat, trus penjualan di boost, atau 2) sekalian dibubarin, tapi si owner uda tau mau ngapain setelah brand itu bubar. Mending bubar daripada cuma jadi penyakit. Ya kan? Mau bukti? Mesti pada ngerti studio foto E yg ada di Seturan donk ya. Studio foto yang lengkap nyediain foto, make up sampe gaun-gaun untuk prewedd?, paham kah? oke ya sudah kalo paham. Dilihat dari marketnya, brand E ini adalah brand yang sudah familiar dengan pasar menengah kebawah, Secara keuangan, mungkin si owner masih percaya klo brand ini masih bisa selamat karena keuangan lancar. Tapi bagaimana klo si owner pengen pindah kelas dari menengah ke bawah jadi menengah ke atas? Akhirnya dibubarkanlah si brand E, lalu si owner membuat sebuah brand lagi yg lebih eksklusif dan mensasar pasar mengeah ke atas. Tidak tanggung-tanggung, studionya dari di Seturan, langsung pindah ke tengah kota dgn nama brand “V”. Menurut saya, ini adalah langkah yang berani mengingat apa yang ditargekan sudah bergeser kelasnya. Maka dari itu, untuk mencapai target pasar yang dituju, si owner rela buat nutup brand yang sebelumnya biar bisa naik kelar dan harganya.

 

Ternyata, ketika ada sebagian orang sedah menggebu-gebu untuk membuat sebuah brand dan ga sabar buat posting di fesbuk dan instagram untuk mengenalkan brand nya, ada sebagian orang pula diluar sana yang pengen nutup usahanya demi sesuatu yang lebih besar lagi. Tapi ingat, untuk membuat langkah besar ini, dibutuhkan feeling, jam terbang dan perhitungan yang sangat detail.

 

ditulis oleh :
Irawan Gepy Kristianto ( @igkbygepy )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hi Genks! Mau SikMimin bantu info FLASH SALE 2020?