Selamat malam teman-teman yang masih setia mengunjungi tulisan demi tulisan saya. Saya berusaha sejujur mungkin dengan tiap malam bersemedi dan mencari topik menarik yang ingin saya bahas dan share ke temen-temen sekalian. Saya yakin, semua fotografer yang membaca artikel-artikel saya adalah fotografer-fotografer hebat meskipun baru saja mengawali bisnis foto nya. Kenapa?, bagi saya, senioritas fotografer adalah seberapa banyak dia menghadapi rintangan dan masalah selama menjalankan bisnis nya. Baik masalah teknis, maupun non teknis. Kita sebagai fotografer mempunyai posisi yang sama, tidak ada yang tinggi, tidak ada yang rendah, tidak ada yang hebat, tidak ada yang cupu. semua sama. Yang membedakan hanya berapa kali seorang fotografer menghadapi masalah, menyelesaikannya dan berusaha untuk tidak mengulangi nya.

“…ah…mas nya bisa aja…masa fotografer yang uda motret di luar negeri berulang kali, klien2nya bule dan cantik, dibilang sama kaya saya yang masih kelas fotografer kelas kampung?…”

Apanya yg salah? Jangan dikira fotografer yang sudah bisa motret diluar negeri, tiba-tiba dipercaya orang buat motret di luar negeri loh. Yaaa mungkin satu dua fotografer ada yang mujur seperti itu, tapi siapa tau banyak dari fotografer sukses itu juga berawal dari tingkat kampung? Anda tidak pernah tau kan? Justru ketika fotografer tingkat kampung ini digembleng dengan tenda biru, digembleng dengan makanan oseng tempe ย dan orek tiap minggu , lalu ketika flash di-bounce warna nya orange atau bahkan pink dikulit, mereka “berontak” untuk menjadi lebih baik dan mau mengambil resiko untuk menghadapi semua tantangan untuk meninggalkan ekosistem Fotografer Wedding tingkat Kampung dan menuju World Wide Wedding Photographer. Apa yang mereka putuskan?, ketika fotografer level kampung masih bertahan dengan oseng tempe dan orek nya, beberapa fotografer memutuskan untuk mengambil resiko, menghadapi berbagai masalah untuk naik kelas. Bener kan kata saya? Semua fotografer itu sama, yang membedakan hanyalah berapa masalah yg sudah dihadapi dan diselesaikan.

tips wedding photographer

Saya pernah motret di kampung. Tenda nya pink, penutup bagian bawahnya biru, pelaminan nya bocor sinar surgawi pas dimuka, dan menu makan nya salah satunya oseng tempe dan orek. Pas saya duduk, ngeliat ke sekitar, membayangkan betapa sialnya saya hari itu, tiba-tiba pikiran saya melanglang buana dan bertanya = apa yang dilakukan fotografer level THEUPPERMOST atau AXIOO klo misal mereka dapet wedding dengan venue seperti ini? Berpikir keras dan sangat keras, menolak untuk mengeluh dan akhirnya saya meminta second shoter saya untuk meletakkan kamera nya dan berubah fungsi menjadi asisten saya, pegang lampu dan saya memutuskan semua foto dihari itu saya sikat pake STROBIST! Gelap, gelap deh ntar jadinya. Pusing, pusing de ntar yang ngedit. Bodo amat. Wedding is Wedding, moment seumur hidup, masa kalah sama tenda pink + biru? Hajar!!

Anggap level kelas dalam dunia fotografi diibaratkan naik per strip. Nah..hari itu saya merasa skill saya naik satu strip. Kenapa?, ga usah ngomongin skill ato teknis deh, berjuang buat GAK NGELUH dengan kondisi dan memutuskan buat tetep motret aja itu uda naik kelas loh. Bayangin kalo waktu itu saya memutuskan buat males trus motret asal2an, saya juga yang kena pada akhirnya. Bener ga?

Kesalahan kita sebagai fotografer adalah ketika asumsi NAIK KELAS itu hanya dikorelasikan dengan uang uang dan uang. Kalo masih fotografer tingkat kampung, murah-murahan harga paketnya, berarti kelasnya masih rendah? Dibanding dengan fotografer yang uda motret dilluar negeri, motret di gedung-gedung besar, maka kelas fotografer kedua ini lebih tinggi dari fotografer kampung? Owh…jangan salah….fotografer adalah fotografer dengan segala keunikan service, skill motret dan style foto nya. Jangan generalkan naik kelas = naik harga. Belum tentu. Naik harga adalah keputusan kita sepihak. Pengakuan dari klien adalah apresiasi atas kerja keras kita dalam memotret, dan pengakuan ini adalah kompensasi dari semangat kita untuk belajar dari kesalahan yang berulang kali digembleng dengan berbagai macam acara pernikahan dengan segala keunikannya.

NAIK KELAS tidak selalu hubungannya dengan harga. Jika anda fotografer kampung dengan margin profit 70%, maka anda lebih baik dari fotografer yang motret di luar negeri tapi margin profitnya hanya 5%. Jangan lihat nominalnya, tapi lihat bagaimana nyali dia untuk menulis margin profitnya. See? Kita tidak pernah tau rahasia dapur orang. Tapi kita tau bahwa keputusan untuk NAIK KELAS adalah keputusan kita secara sepihak. Kita tidak bisa meminta bantuan orang lain. Kalo itu dilakukan pun, orang lain hanya sebatas membantu pasif, yang aktif ya tetep anda sendiri. NAIK KELAS adalah mental. Anggap ada 1 juta fotografer diseluruh dunia dan ketika anda sedang motret sebuah acara pernikahan, apa yang anda pikirkan : anda dipilih klien karena harga nya paling murah, atau anda adalah the best wedding photographer in the world karena telah mengalahkan 999.999 fotografer diluar sana untuk memotret klien anda dihari itu? Jawaban anda adalah……………….

Jawaban anda untuk pertanyaan diatas adalah sebuah indikasi, anda sudah siap NAIK KELAS, atau memilih tetap bersahabat dengan oseng tempe dan orek.

Semoga bermanfaat, sampai ketemu di kelas ya…

Fotografer yang juga sedang berjuang,
Salam Hormat,
Irawan Gepy Kristianto @gepyisme @igkbygepy

17 thoughts on “NAIK KELAS YUK! TIPS WEDDING PHOTOGRAPHER

  1. Kami juga sedang dalam rangka menyemangati diri sendiri mas @eckobepe. Semangat!!!

  2. Hahaha…sengaja saya publish tanggal 1 Agustus mas Ardita. Biar semangatnya pas. Hahaha. Semangat mas!

  3. Halllo mas Arya…terima kasih apresiasinya mas. Semoga bermanfaat buat refleksi karier mas…hehe

  4. Selalu menginspirasi masGep!

    Salam tenda biru! Naik motor matic, bawa tiang lampu, background, blusukan, dan menerabas macet cari jalan tikus. Masa penuh kenangan.. hehe

  5. mantap bro,. ga banyak orang bisa share kyk gini ๐Ÿ˜€
    thanks ya mas broo

  6. Aduh di comment mas Aditya Darmawan…jadi gimana gitu, hahaha…semoga bisa menggambarkan perjuangan mas ^^ #gepy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hi Genks! Mau SikMimin bantu info FLASH SALE 2020?