Selamat malam temen2,FYI saya nulis note ini di hape sambil tiduran setelah seharian ini saya ngabisin bbrp gelas kopi krn editan yg menumpuk. Mata jadi ga kompromi ga mau merem2. Jadi maaf kalo kadang typo krn di hape nulisnya.


Langsung saja, saya tertarik buat nanggepin apa yg terjadi di (lagi-lagi) dunia foto wedding di Indonesia. Ga tau kenapa, sektor ini selalu ada aja yg dibicarakan setiap hari mulai dr skill sampe problematika nya. Tahun ini tahun ke 10 saya “ngamen” di genre ini. Meski sesekali ngerjain foto lain, tapi bs dikatakan main core saya ada di Wedding Photography. Selama itu juga, entah menjadi kebiasaan atau sebuah kutukan, pengamatan dan tebakan saya hampir selalu benar, terkait dgn fenomena yg terjadi didalam industri wedding photography. Mulai dr perihal style sampe yg paling sexy buat dibicarakan yaitu harga. Tapi kali ini saya ga akan ngomongin tentang harga, tp tentang sesuatu yg sudah saya wanti2 ke istri saya bbrp tahun yg lalu, tepatnya ketika istri saya memulai kariernya sbg MAKEUP ARTIST
Saat itu, disaat istri saya mulai ngumpulin portfolio, mulai bikin harga dll, entah dpt angin dr mana, tiba2 saya pesen ke istri saya :


“…buk…siapin baik2. Jangan grusa-grusu ( buru-buru ) latih skill dulu, ktm banyak orang dulu, nemu masalah dulu, baru bikin harga. Kenapa? Karena nanti, suatu hari, fenomena MUA ini bakal kaya foto. Pemainnya bakal makin banyak. Ga akan bs bedain mana yg uda 10 tahun dan mana yg baru 5 hari jualan. Semua based on portfolio di instagram. Jadi set semuanya dr awal terutama style makeup dan harga. Jangan bingung, nanti jadinya cuma ikut arus, jatuhnya ibuk ga berkembang krena bingung mau ikut siapa. Set semuanya dr awal…”


Beberapa tahun berselang, apa yg saya katakan mulai bener. MUA bermunculan. Mulai dr yg style tipis sampe ke style tebel (bold). Mulai dr yg murah, sampe yg mahal. Semua ada.
Sebelum saya lanjutin, saya mau ajak anda mundur mungkin sekitar 10 – 15 tahun kebelakang, dimana sebuah pernikahan ada dibawah kendali seorang perias. Perias dijadikan tujuan pertama dan solusi disetiap kebutuhan pernikahan. Rias Manten jelas ada, dekor ada, foto video ada, mau musik organ tunggal ada, tenda? Jelas ada. Apalagi? Bahkan yg belum masuk ke list jasa, seketika bisa diadakan. Intinya, ditahun-tahun itu perias sangat memegang kendali sebuah pernikahan dan menjadi ONE STOP WEDDING.


Lambat laun, ketika dunia berubah, teknologi berkembang dan semakin mudah melihat portfolio vendor melalui internet, pola ini mulai bergeser. Perias yg tadinya menjadi ONE STOP WEDDING, semakin lama semakin ditinggalkan karena para calon pengantin mulai berani untuk memilih vendor sesuai pilihannya melalui sosial media. Inilah yg terjadi hingga hari ini.


Bisa dikatakan, MUA adalah anak yg dimanjakan oleh sosial media. Begitu mudahnya seseorang menjadi MUA hanya dgn bikin portfolio, foto yg bagus dan posting di sosial media. Gak sesulit para perias yg harus bikin plang nama yg dipasang didepan rumah, punya baju2 pengantin lengkap dan lain sebagainya, seorang MUA bisa mengawali kariernya dengan modal skill dan tentu saja kemampuan me-manage sosial media. Termasuk istri saya tentunya. Apakah ini salah? Jelas tidak, karena ini bagian dari pemanfaatan teknologi. Dunia yang berkembang dan teknologi yg makin maju membuat kebiasaan baru yg tentu saja melahirkan pola yg baru pula. Hal inilah yg dilakukan oleh para MUA, termasuk istri saya.


Masuk tahun ke 5 fenomena MUA meramaikan jagad perweddingan Indonesia, pola lama kembali berulang. Pola dimana penyulap wajah menjadi jujukan pertama para calon pengantin mencari vendor. Melihat pola yg demikian, tidak jarang para MUA mulai mencari vendor2 lain untuk bekerja sama, meski hanya sebatas memberikan no telp vendor rekanan, setidaknya ada pemasukan dr vendor lain (fee) karena secara ga lgsng uda jadi marketing buat vendor tersebut. Fenomena ini terus berulang dan semakin digunakan MUA untuk berbisnis lebih baik lagi. Apa ini salah? Lagi2 tidak karena konteksnya adalah bussiness to bussiness.


Fotografer, sebagai salah satu vendor di dunia perweddingan juga tidak luput dari praktik ini. Banyak sekali teman2 fotografer yg menawarkan jasanya bukan ke klien, tp ke perias atau MUA. Konsepnya adalah ketika ada klien masuk via MUA/perias, jasa forografer ini akan sekalian ditawarkan ke klien. Klien pertama sukses, klien kedua sukses, klien ketiga sukses, begitu saja seterusnya hingga terbentuk pola baru : MUA adalah ONE STOP WEDDING yg baru.


Sekali lagi saya tanya, apakah konsep ONE STOP WEDDING ini buruk? Tentu tidak. Bagi saya, prinsip melayani adalah memberi. Mau apapun strateginya, selama tidak ada pihak yg dirugikan sangat memungkinkan untuk dilakukan karena konsepnya adalah B to B alias Bussiness to Bussiness.


Sebuah konsep tidak akan berkembang jika tidak ada problematika yg mengiringi. Setelah konsep ONE STOP WEDDING by MUA berjalan, masalah2 baru ( yg sebenarnya sudah berlangsung sejak era perias ) mulai bermunculan. Taruhlah tentang bayaran, tentang pembagian pekerjaan, tentang tuntutan yg tidak sesuai dgn bayaran dan lain sebagainya. Saya tidak akan menyalahkan salah satu pihak, yg menjadi fokus saya adalah : KENAPA MASALAH YG SEHARUSNYA BISA DIPELAJARI DAN DIPERBAIKI, MALAH TERULANG KEMBALI


Karena pekerjaan saya Fotografer, akan lebih bijak kalo saya melihat fenomena ini dr sisi fotografer. Setidaknya saya taulah pola pikir atau workflow dr fotografer itu sendiri :


Salah satu teman bercerita tentang problematika konsep ini. Dimana fotografer menjadi salah satu vendor yg support/gabung ke paketan MUA. Ada yg belum dibayar sampe bbrp project, ada yg minta harganya ditekan lagi, ada yg sakit hati karena harganya di jual 2x lebih mahal dan lain sebagainya. Pola ini atau masalah ini masalah klasik yg sudah terjadi bbrp tahun bahkan bbrp dekade yg lalu. Pertanyaannya : KENAPA TERJADI LAGI?


Masih menjadi pertanyaan buat saya, kenapa masih ada fotografer pernikahan yang menjadikan bekerja sama dgn pihak kedua sebagai opsi tertinggi dalam hirarki opsi cara berjualan mereka. Parahnya lagi, mgkn ada bbrp fotografer yg malah tidak ada opsi lain selain bekerja sama dgn pihak kedua. Jadi, ketika pihak kedua bermasalah, entah mengingkari kesepakatan kerja, entah sepi job, entah berpaling ke vendor lain, matilah si forografer ini. Bagi saya, berjualan secara mandiri adalah utama, bekerja sama dgn pihak kedua adalah opsi atau pilihan untuk mengembangkan penjualan.


Jika setiap pekerja kreatif ( dalam hal ini adalah fotografer ) berfikir secara mandiri, akan banyak pekerjaan yg harus dilakukan untuk mendukungnya. Mulai dari skill, style produk, relasi, branding produk, personal branding dan maaaasih banyak lagi. Bayangkan, jika semua itu tidak dipikirkan, bagaimana mau mandiri? Ribet? Ya memang…


Tapi…ketika problematika konsep bekerja sama mulai terjadi, jika kita mandiri, setidaknya masih ada jalan keluar untuk survive. Tidak hanya koar-koar di media sosial menyalahkan ini itu. Seringkali kita lebih mudah menyalahkan orang lain, tanpa melihat apa yg salah dr diri kita.
Belum lg ketika konsep bekerja sama bukan BERSANDINGAN tapi menjadi BAWAHAN. Secara posisi, seorang bawahan tidak akan bisa berkutik jika atasan memutuskan. Mau skill foto diatas rata2, mau juara foto tingkat nasional, mau punya kamera paling mahal kek, kalo atasan uda bilang CORET!, kita bisa apa? Ketika semua sudah terjadi, sedangkan branding dll tidak dijalankan, semuanya sudah telat dan butuh waktu buat memulainya lagi.


Hemat saya, kemandirian brand itu mutlak. Kerja sama itu opsi. Jangan bergantung pada sesuatu yg belum jelas kondisi kedepannya.


Akhir kata, setiap dari kita ini unik dan wajib dipelihara keunikannya. Berceritalah tentang kemampuan kita dalam berkarya dan berhentilah mengharap sesuatu dr orang lain, demi kita.


Salam hormat,

Irawan Gepy Kristianto

thephotoworks

Open chat
Hi!, If you need some advice for your wedding documentation, do not be hesitate to HIT THE GREEN BUTTON. Let's see what can we do for you. Warm hug from THEPHOTOWORKS ^^
Powered by